Pada 28 September 2026, ISO bersama Program Pembangunan PBB (UNDP) meluncurkan ISO/UNDP 53001, standar internasional pertama untuk mengelola kontribusi organisasi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Peluncuran itu berlangsung pada Rapat Tahunan ISO di Paris yang diselenggarakan AFNOR, dan Trellis melaporkannya dengan judul “ISO adopts standard for managing SDG commitments”. Sekretaris Jenderal ISO, Sergio Mujica, mengatakan bahwa “The SDGs have provided a shared global vision for a decade”, sehingga bagi banyak perusahaan pertanyaannya kini bergeser dari mengakui visi itu menjadi menjalankannya secara terukur.
Selama ini komitmen keberlanjutan sering hidup di laporan tahunan, terpisah dari sistem yang mengelola operasi harian. Global Reporting Initiative memperkirakan sekitar 80 persen korporasi merujuk SDGs dalam inisiatif ESG mereka (dikutip Trellis), jadi rujukan pada SDGs sudah lazim; yang belum lazim adalah sistem yang bisa diperiksa pihak ketiga. Standar baru ini masuk tepat di celah itu, karena sifatnya berbasis persyaratan sehingga organisasi dapat menunjukkan bahwa pendekatannya memenuhi kriteria yang jelas dan bukan sekadar pernyataan niat. Sebelum membahas langkah praktisnya, ada baiknya melihat dulu apa yang sudah dicatat sumber resmi.
Yang sudah dicatat oleh sumber resmi
Nama resmi: ISO/UNDP 53001:2026, Management systems for the United Nations Sustainable Development Goals (SDGs), Requirements, edisi pertama (ISO).
Terbit: 28 September 2026, diluncurkan pada Rapat Tahunan ISO di Paris (UNDP, Trellis).
Pendekatan: Plan-Do-Check-Act untuk menilai dampak, melibatkan pihak berkepentingan, menetapkan sasaran SDGs, dan melacak kemajuan (ISO).
Penyusun: komite ISO/PC 343 yang dipimpin Danish Standards (UNDP, Just Style). Standar pendamping ISO/UNDP 53002 memberi panduan penerapan (ISO).
“A practical and internationally agreed set of requirements that organizations can apply with confidence.” Jens Heiede, CEO Danish Standards, tentang standar baru ini.
Marcos Neto, Asisten Sekretaris Jenderal PBB, menyebut standar ini “a crucial tool to help organizations embed the SDGs into the way they operate, lead and govern”. Kalimat itu penting karena menegaskan arah standarnya: bukan laporan tambahan, melainkan cara memimpin dan mengelola. UNDP juga mencatat bahwa standar ini ditujukan bagi bisnis, pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat sipil, dan setiap organisasi boleh berfokus pada SDGs yang paling relevan dengan konteks dan pemangku kepentingannya. Artinya, perusahaan tidak dituntut mengklaim seluruh 17 tujuan; yang dituntut adalah alasan yang jelas mengapa tujuan tertentu dipilih.
Contoh paling dini dari penerapan ada di Korea Selatan. DNV mengumumkan pada 30 September 2026 bahwa CTR Co., Ltd., produsen komponen sasis dan kemudi untuk pembuat mobil global, termasuk organisasi pertama di dunia yang menerima sertifikasi formal ISO/UNDP 53001 setelah standar terbit. Menurut DNV, CTR menerima Letter of Conformity terhadap rancangan akhir standar (FDIS) pada Juni 2026, lalu menjalani audit sertifikasi formal setelah publikasi, dan menempuhnya secara sukarela, bukan karena tuntutan pelanggan atau regulator tertentu. Wakil Ketua CTR, Sang Woo Kang, menyatakan bahwa sertifikasi itu mencerminkan komitmen perusahaan untuk menjadikan keberlanjutan bagian integral dari cara perusahaan dikelola. Pelajarannya sederhana: keberlanjutan dihubungkan dengan strategi dan operasi harian, tidak dijalankan sebagai program ESG yang terpisah.
Bagi direksi perusahaan Indonesia, pertanyaan yang muncul biasanya serupa, dan jawabannya dapat dirangkum dari apa yang sejauh ini dikatakan sumber.
| Pertanyaan direksi | Jawaban dari sumber | Tindakan awal |
|---|---|---|
| Apakah wajib disertifikasi? | Trellis: sertifikasi independen dimungkinkan tetapi tidak diwajibkan | Tentukan alasan bisnis (tender, investor, mitra rantai pasok) sebelum memutuskan |
| Apakah harus mengelola ke-17 SDGs? | UNDP: organisasi dapat berfokus pada SDGs yang paling relevan dengan konteks dan pemangku kepentingannya | Petakan SDGs yang relevan dari dampak usaha dan harapan pemangku kepentingan |
| Bagaimana kaitannya dengan ISO 9001 dan ISO 14001? | Just Style: dirancang berjalan berdampingan dengan standar sistem manajemen yang ada; Trellis: terhubung dengan standar mutu dan lingkungan | Cari proses yang bisa dipakai bersama, misalnya sasaran, audit internal, dan tinjauan manajemen |
| Seberapa besar standarnya? | ISO: edisi pertama setebal 36 halaman | Dapatkan teksnya dan baca bersama tim mutu dan keberlanjutan |
| Adakah panduan penerapan? | ISO: ISO/UNDP 53002 untuk panduan; Trellis: panduan tambahan termasuk studi kasus direncanakan awal 2027 | Pakai 53002 sebagai pendamping dan pantau panduan sektoral |
| Apakah usang setelah 2030? | UNDP: dirancang tetap relevan dan ditinjau secara sistematis seperti standar ISO lain | Kaitkan sasaran dengan strategi usaha, bukan dengan tahun tertentu |
Baris tentang ISO 9001 dan ISO 14001 patut dibaca dua kali, sebab di sanalah sebagian besar pekerjaan perusahaan bersertifikat sudah selesai. Pengendalian dokumen, audit internal, tinjauan manajemen, dan tindakan korektif yang sudah berjalan bisa menjadi tulang punggung bagi sasaran SDGs, selama sasaran itu diberi pemilik dan indikator yang jelas. Karena itu, kami menyarankan urutan kerja berikut ini bagi organisasi yang ingin mulai tanpa menunggu panduan tambahan terbit.
Dapatkan teksnya dan petakan pemangku kepentingan
Mulai dari membaca ISO/UNDP 53001 bersama tim mutu, lingkungan, dan keberlanjutan, lalu daftar siapa saja yang terdampak oleh usaha Anda dan apa yang mereka harapkan. Standar ini menurut ISO meminta organisasi melibatkan pihak berkepentingan, sehingga daftar ini menjadi bahan dasar semua keputusan berikutnya.
Pilih SDGs yang benar-benar relevan
Karena UNDP mengizinkan fokus pada tujuan yang paling relevan, pilihlah sedikit tujuan yang dapat Anda pertanggungjawabkan. Catat alasan pemilihannya dalam satu halaman; auditor dan investor akan lebih menghargai pilihan yang beralasan daripada daftar panjang yang tidak ditindaklanjuti.
Ubah pilihan menjadi sasaran dan indikator
Setiap SDG terpilih perlu sasaran yang punya pemilik, tenggat, dan cara mengukur. Pendekatan Plan-Do-Check-Act yang disebut ISO membantu di sini: rencanakan, jalankan, periksa hasilnya, lalu perbaiki, dan catat setiap siklus agar kemajuan dapat ditelusuri.
Sambungkan ke sistem ISO yang sudah ada
Jika perusahaan memegang ISO 9001 atau ISO 14001, tempatkan sasaran SDGs dalam rapat tinjauan manajemen dan program audit internal yang sama. Dengan cara ini tidak ada struktur ganda, dan pimpinan membaca satu laporan, bukan tiga.
Putuskan perlu tidaknya sertifikasi
Sertifikasi bersifat sukarela, seperti yang ditempuh CTR. Tanyakan kepada lembaga sertifikasi Anda apakah mereka menawarkan penilaian untuk standar ini, dan bandingkan manfaatnya dengan kebutuhan nyata: permintaan pelanggan, persyaratan investor, atau sekadar kejelasan internal.
Uji cepat keterpaduan: ajukan satu pertanyaan yang sama kepada direktur, manajer mutu, dan kepala operasi: kontribusi apa yang perusahaan ini berikan pada SDGs, dan angka apa yang membuktikannya? Bila jawabannya tiga versi yang berbeda, komitmen keberlanjutan Anda masih berada di laporan, belum di dalam sistem.
Tidak ada alasan menunggu sektor Anda mendapat panduan khusus untuk mulai menata dasar-dasarnya. UNDP dan ISO sendiri menyatakan akan bekerja dengan mitra multilateral untuk panduan penerapan, termasuk panduan sektoral, sehingga pekerjaan yang dilakukan sekarang, yaitu pemetaan pemangku kepentingan, pemilihan tujuan, dan penetapan indikator, kemungkinan besar tetap berguna ketika panduan itu terbit. Yang menentukan hasil adalah keterlibatan pimpinan sejak awal, sebab standar yang menyentuh strategi tidak bisa dipenuhi oleh satu bagian saja.
Terakhir, ingat bahwa pengumuman ISO dan UNDP adalah titik awal, bukan akhir, dan setiap lembaga sertifikasi akan menyampaikan sendiri apakah dan bagaimana mereka menilai standar ini. Simpan catatan tertulis tentang apa yang dikonfirmasi lembaga sertifikasi Anda, lengkap dengan tanggalnya, supaya rencana yang dibawa ke direksi bertumpu pada pernyataan tertulis, bukan pada kabar yang beredar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu ISO/UNDP 53001?
Menurut ISO, ini adalah standar yang menetapkan persyaratan sistem manajemen untuk membantu organisasi mengoptimalkan kontribusinya pada SDGs, diterbitkan sebagai edisi pertama pada 28 September 2026.
Siapa yang menyusun standar ini?
ISO dan UNDP menyusunnya bersama. Komite teknis ISO/PC 343 dipimpin Danish Standards, menurut UNDP dan Just Style.
Apakah perusahaan wajib mendapatkan sertifikasi?
Tidak. Trellis melaporkan bahwa sertifikasi independen dimungkinkan tetapi tidak diwajibkan. CTR di Korea Selatan menempuhnya secara sukarela, menurut DNV.
Apakah standar ini menggantikan ISO 9001 atau ISO 14001?
Tidak. Just Style menyebut standar ini dirancang berjalan berdampingan dengan ISO 9001 dan ISO 14001, sehingga dapat mengurangi proses ganda.
Dari mana sebaiknya mulai?
Dapatkan teks standarnya, petakan pemangku kepentingan, pilih SDGs yang relevan, lalu tetapkan sasaran dan indikator yang tersambung ke sistem manajemen Anda. Arafar Nusa siap membantu menyusun langkah-langkah itu menjadi rencana yang sesuai dengan organisasi Anda.
Ingin Menghubungkan Komitmen SDGs dengan Sistem ISO Anda?
Arafar Nusa mendampingi organisasi dari pemetaan kondisi saat ini hingga penyusunan sasaran dan persiapan audit. Percakapan pertama gratis.
Konsultasi Gratis via WhatsAppSumber berita dan rujukan
- Trellis: ISO adopts standard for managing SDG commitments (28 September 2026)
- UNDP: ISO and UNDP launch world’s first International Standard to advance action on the Sustainable Development Goals
- ISO: ISO/UNDP 53001:2026, halaman standar
- Just Style: ISO and UNDP standard on SDGs
- DNV: DNV certifies CTR to ISO/UNDP 53001 (Oktober 2026)